PWI-LS SLEMAN SIAP JAGA KONDUSIFITAS SLEMAN
PWI-LS Sleman Siap Menjadi Pengawal Tradisi Walisongo dan Kiyai Nusantara Namun Menjamin untuk Menjaga Kabupaten Sleman Tetap Kondusif

By ADMIN 19 Jul 2025, 11:37:14 WIB Komunitas
PWI-LS SLEMAN SIAP JAGA KONDUSIFITAS SLEMAN

Sejarah organisasi massa (ormas) Islam di Indonesia dimulai pada masa kolonial dengan pendirian Sarekat Islam (SI) pada awal abad ke-20, yang kemudian diikuti oleh organisasi-organisasi penting seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1910-an dan 1920-an.

Organisasi-organisasi ini memiliki fokus yang berbeda, mulai dari perlawanan terhadap penjajah, pendidikan, sosial keagamaan, hingga gerakan politik dan keagamaan yang bertujuan memajukan masyarakat dan menegakkan ajaran Islam.

Jumlah pasti Ormas Islam di Indonesia sulit ditentukan secara definitif karena terus bertambah dan bervariasi tergantung pada data dari lembaga pendaftaran seperti Kemendagri dan Kemenkumham, serta belum adanya data terpusat yang selalu diperbarui secara keseluruhan. Namun, dapat dipastikan ada ratusan hingga ribuan.

Baca Lainnya :

Ormas Islam turut berperan dalam membentuk identitas nasional Indonesia dan mempersatukan umat Islam dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Baru baru ini banyak berita tentang ormas Islam yaitu PWI LS yang memenuhi laman berita baik media ofline mupun media online.

PWI LS adalah singkatan dari Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah, sebuah organisasi masyarakat (ormas) yang dibentuk oleh sejumlah tokoh Nahdliyin sebagai respons terhadap polemik seputar habib keturunan Arab dari klan Ba'Alwi.

Ormas ini mengusung semangat mengawal tradisi Walisongo dan kiai Nusantara, serta menjadi penyeimbang narasi keagamaan yang dinilai tidak sejalan dengan nasionalisme dan Pancasila, meskipun bukan bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) secara resmi.

Sejak didirikan, PWI LS berkembang cepat di berbagai wilayah, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Saat ini, ormas tersebut telah memiliki pengurus dan anggota di hampir setiap kabupaten/kota di provinsi tersebut. PWI LS dikenal aktif dalam pengkaderan berbasis nilai-nilai Walisongo, serta melakukan konsolidasi sosial dan ekonomi di antara para anggotanya.

Belum lama ini publik juga digemparkan dengan adanya beberapa kejadian penolakan terhadap Habib. Penolakan PWI LS terhadap kehadiran Habib bukan kali pertama. Mereka konsisten bersikap kritis terhadap figur-figur agama yang dianggap membawa narasi kebencian, radikalisme, atau bertentangan dengan nilai kebhinekaan.

PWI LS dibentuk sebagai reaksi terhadap klaim-klaim keturunan Nabi Muhammad SAW dari klan Ba'Alwi yang dinilai tidak memiliki dasar ilmiah dan berpotensi mengancam persatuan bangsa dengan visi untuk Mempertahankan warisan Islam Nusantara, khususnya ajaran Walisongo, dari pengaruh budaya dan paham teologis luar yang dianggap mengancam identitas bangsa.

PWI LS di wilayah Kabupaten Sleman bersekretariat di Ponpes Qasrul Arifin Ploso Kuning III, Minomartani, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan ketua PWI LS Sleman yaitu KH Ruhullah Taqi Murwat (pengasuh Ponpes Qasrul Arifin). PWI LS Sleman sendiri siap menjadi menjadi pengawal tradisi Walisongo dan Kiyai Nusantara, namun demikian mereka sepakat mengawal dengan tetap menjaga kondusifitas di Yogyakarta khususnya Kabupaten Sleman.

KH Ruhullah Taqi Murwat (pengasuh Ponpes Qasrul Arifin) sendiri menyatakan siap menjadi pelopor ormas Islam di wilayah Yogyakarta khususnya Kabupaten Sleman untuk turut serta bersama sama elemen masyarakat, Polri dan TNI dalam menjaga kabupaten Sleman supaya tetap aman dan damai. (SBD)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment